Showing posts with label My Experience. Show all posts
Showing posts with label My Experience. Show all posts

14 May 2013

Buku harian yang engga perawan :D

Ternyata dalam kehidupan saya, sahabat adalah hal yang paling berpengaruh, berharga dan tentunya paling indah yang saya miliki. Bahkan sampai detik ini, mereka adalah orang-orang yang selalu saya kabari, baik lewat sms, facebook, twitter atau media lain. Kabar bahagia atau kabar kegalauan saya. hehe..

Dan malam ini, setelah seharian lelah dengan aktivitas, saya melihat sebuah buku berbungkus putih pink, itu buku diary yang emang saya simpan di rak buku. Saya buka dari halaman pertama yang bertuliskan “Open my book with your smile”. Itu berarti saya selalu mengutamakan senyuman di tiap aktivitas. Hehehe...

Buku Harian tahun 2008-2009, isinya gokil pake tulisan 4l4y yang kacau berat
Halaman pertama di buku harian :D
Halaman demi halaman berisikan curhatan hati saya tentang temen-temen saya, gebetan saya, pacar saya, tapi ternyata diary saya sudah nggak perawan lagi, karna temen-temen emang udah pernah baca, bahkan ikut peran aktif di diary itu. Hahaha.. contohnya aja Nina : dia curhat abis-abisan tentang remedialan matematika, tapi dia nggak ikutan, dia malah pergi ke bongkok (satu desa di Garut) dia bilang ; “Bodo amat yang penting heppi.” What?? Dia juga lebih milih tidur ketimbang ngafalin Nahwiyyah. Ternyata dari dulu kita udah belajar nakal. :D 

Ada Leli yang bawa buku harian saya saat sidang paper dia bilang : “tempat sidang itu hawanya panas, tapi badanku tiba-tiba beku kayak es”. Lain lagi ama Dinny yang mencoba move on dari mantannya, she said : “aku harus coba lupain Adi secara pelan-pelan, semangaaat” 

Ini tulisan nina tanggal 1 Januari 2009
Buku harian ini udah nggak perawan... aaarrrrgghhh,,, Tapi, sebagai balas dendam saya yang udah nggak nahan, saya kirim tulisan-tulisan mereka. Nina bilang “Polos banget yah na waktu dulu” Bolehlah dibilang polos, tapi tepatnya kurang ajar kali yaa... :D

Di buku harian yang udah nggak perawan itu, saya nulis tentang kesedihan saat Amy harus diopname karena liver, Ane diopname karena usus buntu, dan tentang remedialan yang selalu bikin was-was. Sahabat bagai bintang yang selalu saya tunggu saat kegelapan. Aslinya, saya bahagia banget kalau deket sama mereka. Mungkin karena waktu remaja dihabiskan dengan kenakalan-kenalakan bareng mereka.

Ada satu lembar nyeritain pas wali kelas kami dateng ke asrama buat ngontrol belajar, tapi kami malah lagi asyik nonton drama korea Princess Hour yang tayang langsung dari channel Korea. Meski nggak ada translatenya, kami sok tahu aja mereka lagi ngomong apa, well kami pun dimarahi wali kelas di depan adik-adik kelas kami. 

Tapi yang bikin eneg adalah tulisan yang isinya semua curhatan tentang gebetan. Ih woooow... Aslinya itu bikin saya mikir, sebegitunya abege labil yang lagi fall in love. -_-

Ini yang bikin sedih : Satu persatu dari mereka sudah menikah, bahkan amoy yang tubuhnya paling kecil diantara kita sudah punya anak laki-laki yang diberi nama Safaraz (Faz), sebentar lagi Thyara menyusul amy gendong bayi, Salut udah nikah, Nina menunggu beberapa hari lagi, Minie lagi nyusun skripsi dan saya sibuk nyari seonggok berlian.

Rasanya waktu berlaju begitu kencang, mereka telah menemukan belahan jiwanya, sedang saya dan mini masih harus bersabar. Nah loh, saya jadi ngobrol ke nikah.. haaah...

Well, bagaimana pun kita belajar dari masa lalu, masa lalu yang jauuuuuuuh tertinggal. Tapi kenangan, permasalahannya masih bisa kita pelajari, karna kita selalu ingin jadi yang terbaik. Bukankah begitu?? So, I will say Thanks to Nina, Amoy, Mini, Thyara, Salut.. :*

13 May 2013

Tentang dia, bukan pacar!!


Well, akhirnya saya bisa nge-blog lagi. Aaaaaaahhh tentunya ucapan Tengkyu buat ibu yang sudah berkali-kali membantu menyembuhkan laptopku. Karena dia tahu, tanpa laptop hidupku hampa. Nggak bisa ngapa-ngapain. Mematung seperti abis kena mantra. Ini jadi pelajaran berharga, bahwa setiap barang yang dimiliki harus benar-benar dijaga, dirawat, dicintai. Pokoknya saya ucapin terimakasih banyak buat yang udah bantu nyembuhin si hitam ini baik secara materil atau moril. :D

Kali ini, untuk tulisan pertama semenjak si hitam rusak, saya mau mengenalkan seseorang yang sudah tiga tahun ke belakang menemani saya. Memberikan semangat, sesekali menemani belanja, sesekali menemani saya makan. Well, dia bukan pacar saya, karena seseorang ini adalah seorang cewe. Saya normal.. Hahaha..

Pertama kali kita bertemu kurang lebih 3,5 tahun yang lalu di salah satu program kegiatan mahasiswa. Kita menginap di kampus II Unisba, Ciburial. Disana kami bertemu untuk pertama kalinya, saya tidak pernah berpikir kalau dia akan menjadi teman saya, apalagi sahabat saya. Kegiatan tersebut menghabiskan waktu 2hari satu malam. Kami tidur dalam satu kamar, kasurnya bersampingan dengan kasur yang saya tempati. Jujur, orang yang bersebelahan dengan saya tidak pernah menyapa sama sekali. Jutek, mungkin tepatnya seperti itu.

Sampai pada akhirnya kami harus menjadi rekan kerja di organisasi kampus. Berada dalam hirarki kepengurusan yang sama. Allah selalu menjadikan dia sebagai partner saya, menjadi teman untuk menyelesaikan beberapa persoalan di organisasi. Nggak tau kenapa kita jadi klop. Kalau jam makan siang tiba, kami pergi ke luar mencari jajanan yang kami suka. Sering juga pulang bareng, bahkan untuk saling mengantarkan.

Kami menjadi teman baik, saya sering menceritakan dia ke ibu jika saya pulang ke rumah. Saya juga kenal dengan ibunya, bahkan saya pernah menginap di rumahnya pas suatu saat saya ke kota asalnya.

Persahabatan kami dihantam badai besar. Kesalahan saya, kekesalan saya, kesensitifan saya memang telah meretakan hubungan kami. Ada kejadian yang mungkin nggak akan saya lupakan, bukan karena masalahnya, tapi karena memang hal tersebut adalah hal sepele yang kita besar-besarkan.

Saya marah besar saat itu. Akhirnya kami tidak pernah berbagi cerita lagi, tidak pernah menyapa, hanya sesekali ketika rapat atau memang sangat perlu sekali. Hey, tapi yang saya rasakan adalah kehampaan. Masalah kami berimbas ke kerjaan kami di organisasi. Tapi, ada yang masih saya tidak mengerti, pertemanan kami di facebook pun tidak ada. Jujur, saya tidak pernah meng-unfriend pertemanan, begitu juga atas pengakuan dia ke saya. Selidik demi selidik ada seseorang yang memanfaatkan kemarahan kami. Ada seorang teman yang meminjam laptop saya, kebetulan waktu itu saya ceroboh akun facebook saya tidak di log out, well dia men-unfriend pertemanan kami. Dari mana saya tahu? Saya tahu dari pengakuan langsung orang tersebut kepada saya. Kenapa dia berbuat seperti itu? Karena atas dasar tidak suka saja.

Tapi, hal tersebut menjadi pelajaran berharga khususnya bagi saya. Seorang teman itu tidak ada yang sempurna, sama halnya dengan saya yang begitu banyak kekurangan.

Semenjak itu kami tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dia menjadi salah sau teman terbaik. Dia jadi tempat saya menangis ketika pacar saya selingkuh. Dia jadi tempat saya meminta pendapat tentang sepatu, baju, tas, dan lain-lainnya.

Beberapa hari sebelum wisuda kami meluangkan waktu untuk photo bersama dengan memakai toga yang sudah diidam-idamkan. Jajan bareng seperti yang selalu kita lakuin kalau ada waktu kosong atau uang yang cukup. Saya nginep di kosannya, malem-malem kami cerita dan nonton beberapa video Sitcom yang bikin perut ngocok.

Dan akhir-akhir ini dia yang membantu saya menyelesaikan sebuah masalah yang menimpa teman kami, tepatnya sebuah musibah. Dia rela pulang pergi Garut-Bandung selama empat hari. Saya nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada dia. Thank’s to teh Kiki Amel. J Love You so Much... :*






29 March 2013

Asrama oh Asrama

Orang bilang “asrama” itu menyeramkan, terkekang, hidup gak sebebas merpati,hehe. Ah bohong bilang gitu. Justru ketika hidup di asrama, kehidupan jadi serba teratur. Mandi, makan, belajar, main, nonton tv, shalat, seeeee-muanya. Belajar mandiri pula, cuci baju, setrika baju, merapihkan tempat tidur, rak buku, beres-beres dan masih banyak lagi. Bedanya, makan gak seenaknya, semuanya dapet jatah, gak seee-enaknya minta menu makan kayak dirumah, mandi harus antri gak bisa lama-lama, setelah nyuci harus langsung diberesin kalau nggak bakal ada yang marah, #keamanan-nya. Nonton tv pun gak sembarang acara yang disimak. Kebetulan asrama saya hanya menyediakan tv kabel, jadi kami gak menonton siaran-siaran dalam negeri. Keberuntungannya, kami mengetahui indahnya dunia luar, tapi kerugiannya pas pulang ke rumah gak apdet acara-acara hits kayak “Indonesian Idol” sinetron “PPT”. :( Tapi kita gak pernah tertinggal berita lokal atau nasional, soalnya tiap pagi kami udah dapet koran-koran harian kayak Kompas, Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar. 

Sebenernya kami bisa bermain ke luar asrama, maksudnya ke kota Garut hanya satu bulan satu kali, berangkat pukul 10.00 pagi setelah Jumsih #JumatBersih. Dan harus berada di asrama lagi pukul empat sore. Kalo berani melanggar, berarti berani bertanggung jawab. Nah, saya orang baik, kurang suka melanggar, hehehe.. kalau memang sudah waktunya pulang ya saya akan pulang ke asrama. 

Keberuntungan lain ketika tinggal di asrama yaitu punya temen-temen yang berdomisili macem-macem, ada yang dari Sumatera, Kalimantan, Irian, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan masih banyak lagi. Kalau musim liburan tiba, kami pulang ke rumah masing-masing dan kembali dengan makanan khas kota masing-masing. Ada yang bawa rendang, kerupuk kemplang, peuyeum, dan makanan sangat menumpuk. Bahkan setelah liburan lebaran, setiap santri wajib membawa makanan, di hari yang udah ditentukan oleh kepala asrama, makanan itu disimpan di sebuah meja yang besaaaar banget yang disimpan di Math’am[1]. Lalu kami icip-icip makanannya, ada ranginang, cake, dan macem-macem, seru pokoknya saling rebutan makanan yang sebenernya sering dimakan, tapi emang sedikit udik[2] aja kalo nemu makanan agak banyak. :)))

Siapa bilang di asrama, gak bisa nonton film bioskop? Di asrama saya sering nonton film bioskop meski hanya di Layar Tancep Asrama, hehe itu juga sedikit tertinggal. Orang udah nonton film apdet, kita baru nonton film yang tayang sebulan atau beberapa bulan lalu. Tapi tak apalah, asal seru dan asyik!! Nah, nonton layar tancep ini adalah saat yang selalu ditunggu-tunggu. Biasanya kami menonton pas Malam Jum’at atau Kamis Malam, kenapa? Karena Jum’atnya kami tidak terbebani sekolah alias LIBUR. Layar tancep yang dimaksud adalah sebuah infokus dengan laptop yang dipasang menghadap ke mantiqhah Saudah (lantai atas) dan Mantiqhah Shafiah (lantai bawah)[3] kedua mantiqhah berhadapn langsung dengan halaman asrama. Di halaman sendiri dipasang karpet panjang, di math’am sudah disediakan minuman kayak kopi, orange jus, teh, air putih sama gorengan, kayak bala-bala dan gehu. Sebelum layar tancep dimulai, kami udah bawa jatah camilan sama minuman kami. Selain itu, badan kami sudah lengkap dengan selimut, kaos kaki, bahkan banyak juga yang bawa bantal sama guling dari kamar masing-masing. Nah bagi mereka yang gak suka nonton dari halaman, mereka nonton dari lantai dua mantiqhah Saudah. Layar tancap biasanya dimulai setelah shalat isya sekitar pukul 8 malem, dan berakhir sesuai panjang atau pendeknya film yang kami tonton. Film-film yang pernah kami tonton salah satunya Laskar Pelangi, Kungfu Panda, Ice Age dan masih banyak lagi. Seru banget kalo udah nonton layar tancep gitu, karena jadi salah satu penghibut buat kami penghuni “penjara suci” alias asrama... 
ini lagi seru-seruan aja di halaman asrama, yang belum jadi bentuknya.. ;)) Photo ini diambil dari atas jemuran.
Yang selalu dianti-nanti ketika di asrama juga adalah beres-beres taman, yah di taman asrama itu ada kolam ikan ber-air mancur, biasanya kami selalu bermain air sampe baju basah, kalau lagi jailnya kumat, salah satu dari kami yang beres-beres taman, selalu ada yang menjadi korban santapan kolam ikan, diceburin langsung ke kolam, sayangnya semua temen-temen termasuk saya memang jail, kami semua tercebur ke kolam ikan, membalas dendam masing-masing, sampe kejar-kejaran keliling asrama,hahaha,, setelah lelah barulah kami benar-benar fokus membersihkan asrama sebelum ditegur keamanan. Setelah taman bersih dan kolam ikan pun kinclong, badan basah terasa tanggung kalo gak nyebur ke balong[4] belakang mushola. Kami berlomba membawa tutut[5], karena balong penuh dengan lumpur, jadilah kami seperti orang-orangan sawah yang kotor, baju bahkan kerudung sudah berwarna cokelat. Parahnya pas keluar dari kolam di telapak kaki suka ada beberapa udang yang menempel, walhasil telapak kaki berdarah karena udang-udang itu, dasar kami yang udik, rasanya gak pernah kapok bawa tutut dari balong belakang mushola. 


Beres-beres asrama yang diperkirakan selesei jam 10 jadinya molor dua jam, pas adzan dhuhur barulah semuanya insyaf dari kenakalan-kenakalan. Kelonggaran di hari jum’at adalah boleh tidak sholat dhuhur dan ashar berjama’ah tapi sangat bagus kalau berjama’ah. Jadi pas denger adzan dhuhur kita bukannya sholat tapi mandi dan membersihkan baju yang kotor kena lumpur balong, barulah kami yang tertinggal shalat berjama’ah setelah santri yang lain shalat berjama’ah sebelumnya. Setelah shalat makan siang dimulai........ kalo jam makan tiba, suara math’am bising banget, biasanya sepi gak ada kegiatan kecuali MAKAN :D. Setelah makan, tutut yang kami dapat pas lagi beres-beres dipotong-potong buntutnya dan dimasak pake kunyit, uenak pokoknya. Setelah masak, barulah kami berdiri di halaman dan teriak “Yang mau tutut ke bawaaaaaaaahhh....” sambil manyun-manyun bilang tutut. :D Tanpa teriakan berkali-kali, temen-temen yang suka tutut langsung lari ke bawah. Maka dimulailah “ngecrok” tutut together...hehehe... 
Nah ini taman+kolam ikan asrama beberapa tahun lalu, kalo sekarang pohonnya udah tinggi-tinggi.
Bangunan di kiri adalah Mantiqhah Shafiah (bawah) Saudah (atas), tengah lapangan, bangun kecilnya (yg keliatan gentengnya doang) adalah kamar mandi. Kalo bangunan yang ada di kanan adalah math'am atasnya jemuran, nah kalo ada yang berkerudung itu ruang nonton tv (atas), ruang kepala asrama+ruang tamu (bawah). Photo ini diambil dari depan ruang Ust.Deni (salah satu pembimbing asrama) lantai atasnya mantiqhah Khadijah. :)


[1] Ruang Makan 
[2] Kampungan 
[3] Asrama 
[4] Kolam ikan berair keruh dari sawah/air hujan, biasanya berisi ikan air tawar bukan ikan hias 
[5] Keong kecil yang biasa ditangkap untuk dijadikan camilan, cara makannya disedot, atau isi keong diambil pake tusuk gigi

Diculik emak-emak.. ;)

Kisahnya belasan taun lalu, pas saya masih kelas 2 SD, kira-kira waktu itu umur saya baru 7 tahun. MasIh pake rok mini, jepit rambut yang unik-unik. Ibu yang gemar merias saya membuat saya menjadi anak yang selalu dicubit sama ibunya temen-temen saya. Katanya “lucu” “imut”, tapi pas udah segede gini, saya mikir, yang dibilang “lucu” atau “imut” tuh saya’nya atau jepitan rambut yang saya pakai.hahaha... 

Seinget saya, dulu ibu emang gemar banget makein jepitan laba-laba, kupu-kupu, bunga di rambut item saya, pas suatu hari agi jajan di sekolah, si pedagangnya bilang “neng, itu di kepalanya ada laba-laba” hahaha, padahal itu jepitan laba-laba favorit saya. Sayangnya jepitan itu hilang entah kemana, padahal sekarang udah jarang tuh jepitan rambut yang lucu-lucu. Oh ya, pernak-pernik yang juga dikoleksi waktu kecil itu bando “kacamata” jadi bandonya bentuk kacamata, pas dipake di kepala nempel banget kyk kacamata, dulu saya punya 3 bando kacamata dengan tiga warna pula, lagi-lagi bando itu hilang entah kemana. Selain jepitan, bando, saya pernah punya cincin kupu-kupu, kalo cincin itu lagi dipake, kupu-kupunya menggoyang-goyangkan sayapnya, wah lucu pokoknya, dulu saya punya dua cin-cin kupu-kupu, dan lagi-lagi ENTAH DIMANA.. 

Kegemaran ibu yang suka merias saya pake pernak-pernik yang lucu-lucu itu memang terasa full dilakukan ke saya saja dibanding adik-adik saya, kata ibu saya-lah yang bisa diatur waktu kecil, kalo disuruh potong rambut, nurut aja, meski nangis pas lagi dipotong tapi tetep mau, itu sih “potong rambut pasrah” kalo kepala gerak, takutnya telinga yang kepotong bukan rambutnya. Hehe... 

Tapi, meski saya penurut “waktu kecil” J saya sering hilang. Mungkin karena dulu anak sebatang kara, gak punya temen seumuran untuk maen, jadinya suka maen dibawah tangga rumah sendirian sama boneka-boneka atau maenan lainnya. Saya pun sempet ilang pas lagi acara keluarga di rumah nenek. Orang-orang nyari saya kemana-mana, ibu saya udah panik setengah mati, ternyata pas dicari secara teliti, saya sedang tidur sama boneka saya di gudang beras rumah nenek. :D Walhasil untuk mencegah kehilangan lagi, atas usul orang-orang, ibu memasangkan gelang kaki atau yang dikenal dengan nama “gengge” sampe umur saya 7 tahun. 

Okey, saya berterimakasih kepada kelucuan saya, karenanya ibu dapet sepaket susu SGM selama 3 bulan berturut-turut karena saya jadi Juara Favorit Bayi Batita (Bawah Tiga Tahun) di majalah Nova. Coba kalo sampe sekarang lomba photo-photo, mungkin fans-nya udah dimana-mana,hahaha.. Tapi saya bener-bener gak inget pernah menang lomba itu, ya secara masih orok. Untungnya saya pernah liat photonya, namun lagi-lagi karena rumah saya terus berubah posisi, photonya ilang juga. 

Namun jadi anak lucu itu punya beberapa kerugian, selain jadi bahan cubitan ibunya teman-teman, saya juga pernah diculik selama beberapa jam ke tempat yang sepiiii banget. Diculik emak-emak dengan rambut sebahu ngembang, pake lipstik merah, rok selutut. Awalnya dia nanyain tempat ke saya pas saya lagi jajan sate usus di depan sekolah, saya bilang “gak tau bu”, lalu dia bilang “coba tanya ke temen-temennya” akhirnya saya ngajak Sherly, Yurike, Devi, Hesti. Dengan diiming-imingi uang, kami berlima mengantar ibu itu ke sebuah tempat yang jauh dari sekolah. Saya nanya ke ibu itu “bu, kita mau kemana? Kok kita muter-muter terus daritadi, capek nih” ibu itu hanya bilang “ayo ikut saja, kan saya cari alamat ini”. Setelah berjam-jam kita muter-muter gang, rel kereta api, berhentilah di gang yang sepi, gak ada orang yang berlalu lalang. 

Dimulailah aksi emak-emak penculik itu. Pertama, dia mendekati Sherly, temen saya berkulit sawo matang, dia memang tampak mewah, jarinya, pergelangan dan telinganya dipasangkan perhiasan emas yang cukup mewah, emak-emak penculik itu berdalih “Neng, antingnya mau lepas, ibu lepas aja yah takut jatuh, sekalian aja sama cincin gelangnya, ibu simpan di tas”. Yang saya liat emak-emak penculik itu nyimpen perhiasan Sherly ke kertas yang udah disiapin, lalu di masukin ke tas Sherly. Setelah perhiasan Sherly dilepas ama emak-emak itu, berikutnya entah siapa lagi, saya lupa. Yang pasti saya adalah orang terakhir yang diminta untuk melepas perhiasan yang dipakai, waktu itu saya hanya memakai anting dan gelang kaki. Pas emak-emak itu mau lepas anting, saya bilang “anting saya udah kuat ko bu, ibu saya yang bilang kemaren ke saya, jadi nggak mungkin lepas lagi” dengan kepolosan waktu kecil, karena tepat satu hari sebelumnya anting saya lepas lalu ibu membetulkan dan bilang “Icha, antingnya gak akan lepas lagi, udah kuat sekarang!!”. Tapi penculik itu mendengar gemerincing dari kaki saya yang cukup nyaring, dia bilang “tuh gelang kakinya mau lepas,” entah dihipnotis atau apa, saya nurut saja melepas gelang kaki. Andai saja ibu juga bilang “Gelang kakinya gak akan lepas” saya gak akan melepas gelang kaki yang saya pakai. 

Tepat pukul dua siang, kami berlima diantar lagi oleh penculik itu ke gerbang sekolah. Penculik itu memberi uang SERIBU rupiah untuk dibagi lima, satu dari kami masing-masing dapet DUA RATUS RUPIAH. Uang itu langsung saya jajankan sate usus lagi di depan sekolah. Sesampainya di sekolah ternyata orang tua Sherly dan Yurike sudah mencari kami. Lalu kami cerita ke orang tau Sherly dan Yurike kalau kami habis anter ibu-ibu dan mereka melepas cincin, gelang dan anting. Sontak saja orang tua Sherly dan Yurike kaget, langsung nanya “sekarang mana cincinnya?”. Sherly, Yurike, Devi, Hesti dan saya mengeluarkan kertas yang digulung oleh karet dari dalam tas. Orang tua temen-temen yang waktu itu masih ada termasuk guru-guru sangat kaget pas kertas yang “katanya” berisi perhiasan hanya sebuah gulungan kertas yang diikat oleh gelang karet. 

Saya hanya diam pas liat kertas yang saya kira ada gelang kaki ternyata diambil oleh orang yang gak dikenal. Setengah jam kemudian, ibu saya pun datang ke sekolah. Saya termasuk bocah yang tegar waktu itu, saya nggak nangis seperti temen-temen yang lain. Saya hanya diam, dan pas ibu dateng, saya menceritakannya dengan tenang juga. Yang saya inget, saya hanya dipeluk dan dicium ibu “gelang kaki gak apa-apa hilang, asal bukan kamu yang hilang” ucap ibu kurang lebih kayak gitu. 

Yah, setelah kejadian penculikan itu, saya tidak pernah memakai gelang kaki lagi. Gelang kakinya diambil emak-emak penculik ketika saya berumur 7 tahun. Gelang kakinya diganti oleh uang DUARATUS rupiah yang dengan cepat saya belikan dua tusuk sate usus depan sekolah. :D