Waktu berjalan begitu cepat, nggak terasa satu persatu jenjang pendidikan terlewati dengan nikmat, bahagia dan begitu menyenangkan. Melihat keponakan yang sudah besar, sudah bisa ngasih kritik, sudah bisa milih baju sendiri. Melihat adik yang akan masuk dunia barunya di putih-abu. Melihat anak-anaknya temen yang udah pada tumbuh besar, udah bisa jalan, bisa ngomong, bisa ini dan itu. Tentunya melihat temen-temen sudah punya momongan, ada yang baru menikah dan ada yang sedang mempersiapkan pesta pernikahannya. Ada juga yang masih mencari-cari calon suami atau calon istri. Yah, waktu begitu cepat berlalu. Saya terlalu menikmati kehidupan duniawi ini, hingga kini baru sadar bahwa saya sudah tua, tiga tahun lagi umur ini menginjak seperempat abad. Aaah saya sangat tua.
Ketika menyadari bahwa ternyata hidup ini sangat singkat. Nyatanya banyak sesal, kenapa tidak berbuat ini, kenapa tidak berbuat seperti itu, kenapa harus seperti ini dan masih banyak lagi. Nyatanya setiap waktu bertambah usia banyak hal yang belum dilaksanakan, belum puas dengan apa yang ada. Meski selalu ditanamkan dalam otak ini bahwa ‘Syukur’ kuncinya, sulit aplikasinya.
Ketika menyadari pula bahwa satu persatu teman-teman saya meninggalkan saya, meninggalkan kehidupan bersama saya, satu persatu mereka mengisi hari-harinya dengan keluarga yang mereka bangun sendiri. Timbul pertanyaan, kapan waktu untuk saya? apakah dunia mengizinkannya? Lagi-lagi saya merasa kurang bersyukur. Tapi ternyata, hidup ini memang dibangun untuk keluarga. Ketika masih menjadi seorang anak, maka hidup untuk membahagiakan ibu, bapak, adik atau kakak. Ketika sudah menjadi seorang istri/suami/ibu/ayah maka hidup untuk pasangan, untuk anak dan tentunya untuk kebahagiaan mereka. Sekarang posisi saya masih menjadi seorang anak, saya ingin menikmati kebahagiaan bersama seorang yang telah membesarkan saya. Ibu. Untuknya, untuk bapak dan kedua adik saya. mungkin inilah waktu yang tepat untuk membahagiakan mereka, setelah beberapa tahun kebelakang saya terlalu sibuk memikirkan diri saya sendiri.
Well, kali ini saya ingin mengejar cita-cita saya, mudah-mudahan ketika saya sedang mencoba untuk merangkul dunia, saya bertemu dengan seseorang yang sedang merangkul dunia dan akhirat juga. Meski sebetulnya saya sedang merindukan teman-teman yang selama beberapa tahun terakhir ini menjadi sahabat saya, yang rela bagi-bagi suka duka, yang rela dibullying, yang rela menjadi bagian hidup saya. semuanya menjadi berkesan ketika mereka tahu bahwa saya sedang bahagia, dan saya menjadi terlindungi ketika saya sedang pilu.
Showing posts with label Coretanku. Show all posts
Showing posts with label Coretanku. Show all posts
6 June 2013
18 February 2013
Kenangan Ibarat Kaca Spion
Tidak ada salahnya kita menengok masa lalu, bukan?! Karena setiap orang mempunyai masa lalu yang bisa dijadikan pembelajaran. Pembelajaran menjadi lebih dewasa, hati-hati dalam bertindak, dan berbagai macam pembelajaran lainnya. Namun, kita juga harus bertindak bijaksana akan masa lalu yang pernah singgah dalam kehidupan kita. Boleh menengok masa lalu karena setiap orang mempunyai memori yang cukup kuat dalam mengingat masa lalu. Apalagi jika masa lalu tersebut sangat membahagiakan atau mungkin sangat menyakitkan. Akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lakukan yaitu larut dalam penyesalan atau membayang-bayangkan bahwa kita kembali ke masa lalu.
Kenangan memang satu hal yang sangat unik. Kenapa bisa? Karena setiap orang mempunyai hal baru dan setiap menit berkunjung ke menit sesudahnya, maka hal baru tersebut menjadi masa lalu. Yah, masa lalu merupakan hal yang tidak bisa dikembalikan lagi kepada zaman yang telah kita singgahi. Menurut Hasan al-Banna, kita hanya memiliki tiga waktu, pertama adalah masa lalu yaitu masa yang sudah terlewati, kedua adala masa depan yaitu masa yang masih misteri, dan ketiga adalah masa sekarang yaitu masa yang sedang kita jalani.
Masa lalu bukanlah masa yang sudah berlalu satu tahun atau dua tahun ke belakang, akan tetapi waktu yang telah kita singgahi satu menit yang lalu bahkan satu detik yang lalu adalah masa lalu. Masa yang tidak bisa disinggahi lagi.
Uniknya setiap orang selalu menyesalkan tentang keberadaan masa lalu. Kenapa begini? Kenapa begitu? Seharusnya begini? Seharusnya begitu! Dan masih banyak lagi penyesalan saat memori kita melihat masa lalu tersebut. Kenapa demikian? Karena manusia memang makhluk yang telah Allah ciptakan dengan akal dan fikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Selalu ingin mempunyai hal yang terbaik bagi kehidupannya. Itulah yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya. Ingin yang sempurna atau ingin yang sesuai merupakan hal yang wajar, akan tetapi jika keinginan dan tindakan tidak sesuai, tiadalah mencapai kesempurnaan seperti yang diharapkan.
Itulah sebabnya Allah SWT menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran. Sebuah ungkapan mengatakan bahwa “Pengalaman adalah guru yang paling baik”. Pengalaman tersebut didapat dari masa-masa yang telah kita lewati baik pengalaman yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Semuanya menjadi guru, agar kehidupan kita menjadi lebih baik.
Jika diibaratkan masa lalu adalah kaca spion yang ada pada sebuah motor atau mobil. Sesekali kita harus menengok spion, agar kita mengetahui siapa yang ada di belakang kanan atau kiri kita. Agar ketika kendaraan tidak menyenggol kendaraan yang lain dan tidak menyebabkan kecelakaan. Nah, jika kita terlalu lama melihat spion maka kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan, mungkin saja akan menabrak seseorang yang sedang menyebrang atau menabrak kendaraann yang ada di depannya. Dalam berkendaraan baik mobil atau motor kita diharuskan fokus melihat ke depan agar sampai tujuan dengan selamat. Begitu juga dengan kehidupan, kita harus bahkan wajib menfokuskan diri kita agar selamat dunia dan akhirat.
19 November 2012
Banjir & Galau diantara Hujan
Siang ini saya melihat TL (Timeline) twitter dan wall Facebook, teman-teman di twitter dan facebook sepertinya sedang syndrom dengan tema “Hujan”. Hujan menjadi topik hangat lalu kata hujan disandingkan dengan kata banjir. Hujan di daerah Bandung kali ini memang “Wow” sekali. Ketika kita curhat tentang hujan lalu ada yang menanggapi dengan kata “Jadi gue harus bilang WOW?”, pantas saja kita bilang kata WOW, karena bagaimana tidak, hujan yang datang setelah kemarau panjang mengakibatkan banjir dan menyebabkan kemacetan yang WOW pula. Perjalanan saya dari rumah ke kampus yang biasanya ditempuh hanya 45 menit pakai motor, karena macet yang WOW tersebut perjalanan menjadi 3 kali lipat lebih lama (ini asli lho!). kalau tidak ingat ujian dan bimbingan skripsi sepertinya saya akan pulang lagi ke rumah, seperti kakak saya yang tidak jadi bekerja karena jam kerja masuk pukul 08.30, tapi pada pukul 08.00 baru mencapai ¼ perjalanan. Kemacetan terjadi begitu parah karena semua kendaraan tertuju ke jalan Buahbatu, karena jalan Rancamanyar memang menjadi salah satu tempat langganan banjir begitu juga dengan Dayeuhkolot. Lalu alternatif lainnya adalah Soreang, tapi baru kali ini Soreang pun mengalami banjir dan longsor yang cukup parah. Jadi, menurut saya pantas saja ketika kata hujan disandingkan dengan Banjir.
Sampai di kampus siang harinya saya membaca koran terbitan lokal, bahwa ternyata banjir terjadi diluar dugaan. Musim kemarau yang cukup panjang seharusnya bisa menampung air hujan di sungai-sungai yang cukup kering. Namun kendalanya lagi-lagi terjadi pada sampah yang menumpuk di pinggir-pinggir sungai, sehingga saluran sungai tidak lancar dan menyebabkan luapan air ke rumah-rumah warga atau yang biasa disebut dengan BANJIR. Melihat hal seperti itu, pemerintah seharusnya bertindak lebih cepat dan tanggap karena musim hujan diprediksi akan berlangsung selama beberapa bulan kedepan. Baru satu hari hujan, banjir sudah parah, saya tidak bisa membayangkan jika hujan berlangsung selama beberapa hari bahkan jika selama sebulan hujan secara terus menerus. Selain itu, kendala volume kendaraan yang membludak seharusnya bisa diantisipasi dengan transportasi yang memadai, sehingga kerugian tidak terjadi di berbagai sektor kehidupan. Jika setiap hari karyawan pabrik terlambat maka kerugian bisa hingga ratusan juta apalagi jika pabriknya yang terendam banjir. Dan sebagai masyarakat pun sebaiknya mulai save of life, maksudnya mengerti dan paham akan indahnya hidup sehat, teratur, tertib dan disiplin, seperti membuang sampah, mengubur sampah atau mengolah lagi sampah bagi mereka yang kreatif.
Yah, banjirlah yang menjadi kata yang bergandengan hujan. Namun, saya juga menjadi kurang mengerti bagi mereka yang menulis di wall FB dan TL twitter ketika hujan disandingkan dengan kata “GALAU”. “MAKSUDNYA?” itulah kata yang saya ucapkan, dan refleks mengerutkan kening. Kenapa harus galau? Galau itu suatu kegundahan hati, dan saya yakin setiap orang pernah merasakan kegundahan, kegalauan, kegelisahan yang rasanya campur aduk. Yah, itu wajar karena kegundahan biasanya terjadi pada diri yang sedang menunggu sesuatu yang diharapkan dan cemas akan segala kemungkinan yang terjadi. Ingin sempurna namun tidak melakukan apa-apa menuju kesempurnaan tersebut. Jadinya galau. Mungkin seperti ketika menunggu kiriman uang lewat POS, biasanya dalam waktu 3 hari weselan itu sampai, namun sudah 5 hari weselan tidak muncul saja, maka cemas pun terjadi, takut weselnya mampir ke tangan orang lain. Selama menunggu weselan tersebut kita pun tidak menghubungi pihak POS atau pengirim oleh karenanya galaupun merajai.
GALAU sudah menjadi tren di kalangan masyarakat. Lucunya ada tulisan seperti ini “Hujan turun, galaupun datang” (nn). Padahal kalau saya “hujan turun, laparpun menjelma” (lho apa hubungannya juga) :D. Setidaknya hujan tidak menjadi salah satu penyebab kecemasan hati yang berbentuk psikis, karena hujan berbentuk fisik maka bagusnya akibat dari hujan adalah keadaan fisik juga. Seperti panas menyengat menyebabkan keringat, atau hujan turun menyebabkan banjir.
Tapi, jika hujan disandingkan dengn banjir atau galaupun itu sah-sah saja. Mungkin perumpaan kegalauan itu adalah seperti hujan yang turun secara serentak, saling mengejar agar jatuh ke tanah, deras seperti air mata, dan turun tanpa waktu yang tidak terbatas.
Kegalauan itu memang bukan rangkaian kata namun rangkaian perasaan yang terjadi akibat keadaan-keadaan psikis. Berbeda dengan banjir yang terjadi akibat rangkaian hujan yang terus turun tiada henti.
Banjir atau Galau, biarlah kita serahkan kepada yang Kuasa. Kedua keadaan (banjir dan galau) yang diakibatkan oleh hujan bisa diusahakan agar lebih baik. Bedanya, banjir diusahakan oleh tenaga kita dan galau diusahakan hilang dengan fikiran kita. Tapi keduanya akan menjadi suatu keberkahan tersendiri jika dipasrahkan kepada Yang Kuasa.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], Padahal kamu mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 22)
31 May 2012
Sms'an dengan Kawan Lama "Don't Gives Up"
Ada yang ingin gue share ama
temen-temen blogger semua. Sebenernya kejadiannya udah dua hari yang lalu tapi
tak ada yang namanya telat untuk berbagi. Iya gak?? Hehehe..
Dua hari yang lalu pas mau tidur,
kurang lebih jam. 9 p.m tiba-tiba handphone Samsung gue bunyi. Maklum, sekarang
gue jarang gunain HP itu buat sekedar sms’an/internetan apalagi telponan karena
provider yang digunain terbilang mahal buat golongan mahasiswa kayak
gue..hahaha...
#Bipp suara HP dibawah selimut,
new number isinya tentang peringatan bahwa kita harus tetap tenang, karena
manusia itu lebih dalam dan luas dari berbagai cacian dan hinaan. Kurang lebih
begitu isinya.
Gue bales tuh pesan, nanyain
siapa sang pemilik nomor cantik tersebut. Woooww ternyata kawan lama gue waktu
di pondok pesantren. Udah lama gue gak ketemu. Dia kawan berbagi suka, duka
gue. Meski dia cowok tapi intensitas komunikasi kita bisa dibilang cukup padat
dan merayap... :p
Akhirnya kita saling melepas
rindu.. Sebenernya kita masih komunikasi’an di twitter atau facebook, cuman gue
nggak pernah bisa rindu-rinduan di social network tersebut. Beberapa menit
kemudian gue share kalimat ke dia.
Isinya “Jika kita menangis karena
kebaikan seseorang, maka kenapa kita tidak menangis karena-Nya”
Gue kirim tersebut karena jujur
gue lagi galau karena seseorang yang ninggalin gue. Tapi gue diingetin ama
temen gue sodara gue bahwa gue harus tetep move on dan harus tetep inget kebaikan-kebaikan Allah swt kepada gue yang tanpa gue sadar, kebaikan itu udah gue nikmatin.
Beberapa menit gue kirim sms itu,
kawan gue balas kayak gini “sudah lama aku tidak merasakan jatuh cinta”
![]() |
| Pray to expect to pleasure of Allah swt. |
22 February 2012
Ruh Cinta
http://elegikedamaiangames.blogspot.com/
Ruh Cinta
Karya : Nisa Rahmalia
Aku senang bernyanyi, tapi tak semerdu Whitney
Aku senang menulis, tapi tak se'sastra Chairil Anwar
Aku senang bercinta, tapi tak seindah Romeo dan Juliet
Aku hanya bisa mengadukan nasib di bumi ini
Seperti bulan yang mengadukan nasibnya di lembah malam
Ditemani satelit dengan orbitnya
Seperti halnya ombak yang menerjang batu karang di lautan
Aku ingin menjadikan cinta yang tak kaku
Seperti kupu-kupu yang telah lelah bermetamorfosis
Seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda
Orang bilang aku sedang di mabuk cinta
Seperti syair band Armada
Menurutku, aku terkena Rhintis Vasomotorik
Aku kaku, tak bisa bernafas karena virus
Dalam kekakuanku, aku menunduk di hadapan-Nya
Semoga cinta tak berduka
Tak memberi perih dan pilu
Semoga cinta semakin bernyawa
Bukan menjadikan mati seperti pedang yang terhunus tepat pada jantung
Semoga cinta menjadi ruh yang sejati
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)

