28 January 2013

Khadijah Mahadaya Cinta (Sebuah Review)

Kisah panjang ajaran Islam ternyata bermula dari sebuah kamar kecil yang didalamnya terdapat dua pecinta sejati yang Allah SWT ciptakan sebagai pembawa jalan gelap gulita menuju jalan yang terang benderang.

Perempuan tua renta cinta dengan senja yang mempertemukannya dengan masa lalu. Ia selalu duduk di bawah bantal, dilayani oleh khadimat yang setia. Ia memandangi pasar dari terasnya, melihat perbedaan pasar saat ia masih muda dengan pasar yang sekarang di depan matanya. Ia merayapi pelan-pelan masa lalu yang menjadi permata baginya. Namun, ada genang air mata yang membasahi pipinya.

Di penghujung pasar, seorang anak muda sedang menarik perhatian pengunjung pasar. Menawarkan guci cacat. Tidak ada satupun yang memerhatikannya kecuali seorang gadis kaya nan rupawan terpikat kepada tawaran jujur atas guci pemuda tersebut. Nahar, nama pemuda tersebut.

Nahar, pemuda miskin dan papa yang menjual gerabah di pasar. Guci cacat adalah barang dagangannya saat bertemu gadis itu, guci yang harus laku menjadi sebuah syarat dari tuannya agar ia bisa meneruskan pekerjaan niaganya. Nahar, pemuda jujur yang menawarkan guci cacat di muka pasar. Ia berbeda dengan pedagang lain yang mengindah-indahkan barang dagangannya. Karena itulah Laila, gadis kaya nan rupawan itu mencintainya. Dibelinya gerabah asalkan Nahar mengulangi ucapan yang ia sunggingkan di telinga Laila. Sebuah ucapan yang akhirnya diulangi Nahar agar Laila membeli guci, ia kembali mengatakan “bibirmu indah”

Diceritakan bahwa Laila jatuh cinta pada Nahar atas kejujurannya, dan Nahar sebagai pemuda yang beruntung dicintai Laila, seorang gadis baik hati juga rupawan. Laila pun mengajukan syarat kepada Nahar. Nahar harus datang setiap senja di rumahnya untuk mendengarkan sebuah kisah dua orang pecinta yang kisahnya abadi sepanjang masa tidak rusak dimakan zaman bahkan menjadi kisah yang turun dari Sang Maha Cinta.

Senja datang, Khadijah ra dan Nabi Muhammad SAW menghiasi langit hingga malam tiba. Khadijah, seorang janda cantik, kaya raya mengutus Maysarah sebagai pendamping Muhammad bin Abdullah dalam perniagaannya. Sepulang dari perniagaan, Maysarah menceritakan kepada Khadijah binti Khuwaylid tentang sebuah awan yang menaungi perjalanan mereka. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan pendeta yang menyatakan bahwa Muhammad adalah kelak akan menjadi utusan bagi umat seluruh dunia.

Mendengar kisah Maysarah ia mengutus Nufasyah untuk mengutarakan maksudnya, yaitu menjadi istri Muhammad bin Abdullah. Menikahlah Khadijah binti Khuwaylid dengan Muhammad bin Abdullah.

Khadijah perempuan yang menjadi istri, sahabat, ibu bagi Muhammad merupakan satu-satunya perempuan yang bisa membasuh air mata Muhammad bin Abdullah, hingga sampai ketika Jibril diutus untuk menyampaikan wahyu kepada Muhammad SAW, Khadijah-lah perempuan penyejuk jiwanya dan sekaligus orang pertama yang mengucapkan “Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan engkau, kekasihku adalah utusan-Nya”. Khadijah orang pertama yang masuk Islam di kala orang-orang memusuhinya, menghinanya, menggerilya kekasih hatinya.

Kisah Khadijah menjadi sahabat antara Laila dan Nahar di setiap senja. Namun, Nahar belum bisa bercermin kepada Rasulullah SAW, seorang yatim piatu yang menikahi seorang Ratu Mekkah, wanita terkaya yang umurnya jauh diatas Rasulullah SAW. Nahar, pemuda itu hanya meninggalkan sebuah surat untuk Laila.

Senja pun kembali menjulang di langit. Para khadimat senantiasa melayani tuannya. “Laila...” begitulahkhadimat memanggilnya di setiap senja.


****

Novel Khadijah [Mahadaya Cinta] sebuah karya yang ditulis oleh seorang pemuda asal Banten bernama Fatih Zam. Novel yang bernuansa sirah nabawiyah ini mengisahkan sisi lain Khadijah ra dan Muhammad SAW saat Islam pertama kali datang dengan badan Muhammad SAW yang begitu menggigil dan Khadijah sebagai obat semua rasa sakit dan kekhawatiran Muahammad SAW.

Alur maju mundur mengajak pembaca merefleksikan otak dan pikiran. Kisah cinta hakiki Khadijah ra dan Muhammad SAW dikolaborasikan dengan kisah cinta Laila dan Nahar. Rupanya penulis mengajak pembaca menikmati dua kehidupan cinta yang ternyata cinta harus bermuara kepada Khaliq.

“Jika cinta bersandar harta, harta akan sirna. Jika cinta bersandar wajah, wajah akan musnah. Jika cinta bersandar budi, dia mengabdi” -Fatih Zam-

No comments:

Post a Comment