24 April 2012

Pemikiran Filsafat Plotinus



Pendahuluan

Permulaan abad pertengahan dimulai sejak Plotinus. Pada masa Plotinus agama menjadi satu hal yang besar pengaruhnya terhadap pemikiran filsafat pada saat itu. Maka saat itu filsafat berwatak spiritual. 

Thales (624-546) digelari sebagai filosof pertama dengan pertanyaannya “dari bahan dasar apakah alam semesta ini?” thales menjawabnya : air. Jawaban itu tidak memuaskan, pertanyaannya lebih berkualitas daripada jawabannya. Plotinuslah, kira-kira 800 tahun kemudian (sekitar 8 abad) sebagai orang yang mula-mula menyusun jawaban yang lumayan terhadap pertanyaan itu. Itulah yang bernama teori emanasi, sebuah teori yang yang menjelaskan bahwa banyaknya makhluk, tidak berarti lantas dalam Yang Esa ada pengertian yang banyak pula, karena menurutnya Tuhan tidak sebanyak makhluk, dan alam ini diciptakan melalui proses Emanasi. “The One” sendiri, tidak berubah, dan penciptaan tidak dalam kerangka ruang dan waktu, yang justru diciptakan kemudian. 

Tujuan utama Filsafat Plotinus ini adalah untuk bersatu dengan Tuhan, melalui indera, tentang alam, menuju jiwa Ilahi. Satu kesamaan yang kiranya tak mengherankan dengan Wahdatul Wujud dan Ittihad (kebersatuan dengan Tuhan) dalam khazanah Islam kemudian, jika menyadari bahwa mereka mungkin sekali belajar dari sumber-sumber yang sama dan dapat saling mempengaruhi, terlepas dari benar-salahnya paham Wahdatul Wujud dan Ittihad ini. Penting dicatat, bahwa Ilmu/sains tidaklah penting bagi Plotinus, maka penjelasan ilmiah tentang alam semesta juga tidak penting.

Pada saat itu akal (di Barat) benar-benar kalah pada masa ini (terutama pada Filsafat Plotinus, Augustinus, Anselmus), bahkan pemanfaatan akal diganti oleh Augustinus mutlak dengan Iman, sebelum penghargaan terhadap Akal sempat muncul kembali kemudian pada masa Thomas Aquinas di akhir masa Abad Pertengahan.

Secara ringkas Plotinus adalah filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Ia mengajukan sebuah teori emanasi, sebuah teori yang banyak dipakai oleh filsuf Islam. Teori tersebut merupakan sebuah jawaban dari pertanyaan Thales kira-kira delapan abad sebelumnya; apa bahan alam semesta ini? Plotinus menjawab : bahannya adalah Tuhan. Filsafat Plotinus kebanyakan bernafas mistik, bahkan pendapatnya Filsafat bertujuan untuk pemahaman mistik. Secara umum Plotinus disebut Plotinisme atau Neo-Platonisme karena ajaran Plotinus berkaitan dengan ajaran Plato. Filsafat Platonisme bersifat teosentris, yang terkenal dengan konsepnya yaitu metafisika atau transedens. Konsep Transedens meyakini dengan adanya tiga realitas, yaitu:
1. The One/ Tuhan
2. The Mind/ ide-ide objek
3. The Soul/ satu jiwa dunia dan banyak dunia-dunia kecil

PEMIKIRAN FILSAFAT PLOTINUS

A. Kehidupan Plotinus

Plotinus dilahirkan pada tahun 204 M di Mesir, di daerah Lycopolis. Pada tahun 232 dia pergi ke Alexandria untuk belajar filsafat, pada seorang guru yang bernama Animonius Saccas selama 11 tahun. Pada tahun 243 ia mengikuti Raja Gordianus III berperang melawan Persia, pada saat itu ia ingin menggunakan kesempatannya untuk mempelajari Persia dan India. Tapi sebelum ia mempelajarinya Raja Gordianus terbunuh pada tahun 244, sedangkan Plotinus bisa menyelamatkan diri ke Antakya (Antioch).

Pada usia 40 tahun plotinus pergi ke Roma. Di Roma Plotinus menjaid pemikir terkenal dan patut diperhitungkan. Pada tahun 270 Plotinus meninggal dunia di Minturnae, Campania, Italia. Muridnya yang bernama Porphyry mengumpulkan tulisannya yang berjumlah 54 karangan. Karangan itu dikumpulkan menjadi 6 set, setiap set berisi 9 karangan. Masing-masing set disebut ennead.

Ennead pertama berisi masalah etika, mengenai masalah kebajikan, kebahagiaan, kejahatan dan masalah pencabutan dari kehidupan. Ennead kedua berisi tentang penciptaan alam semesta. Ennead ketiga berisi tentang implikasi filsafat tentang dunia, seperti iman, kuasa Tuhan. Ennead keempat membahas masalah sifat dan fungsi jiwa. Ennead kelima membahas tentang roh ketuhanan. Ennead keenam membahas tentang berbagai topik seperti tentang kebebasan kemauan. (free will), tentang ada yang menjadi realitas. 

a. Kedudukan Plotinus
Sebelum filsafat kuno mengakhiri zamannya, seorang filosof membangun sebuah sistem yang disebut dengan Neo-Platonisme. Ia adalah seorang metafisikawan yang besar, orang itu bernama Plotinus. Nama ini sering tertukar dengan nama Plato, yang ajarannya diperbaharuinya dengan menggunakan nama Neo-Platonisme.

Pengaruhnya jelas sangat besar. Pengaruhnya ada pada Teologi Kristen juga pada rennainsance. Mungkin semua filsosof yang mementingkan suara hati (iman) dapat dikatakan dipengaruhinya, seperti Goethe, Kant dan banyak lagi yang lain. 

b. Pengikut Plotinus
Sesudah Plotinus, hanya sedikit filosof berbobot yang dihasilkan, antara lain ialah Porphyry (233-301). Ia amat suci bahkan sering dikatakan ia menyiksa diri. Dialah yang menyebarkan karangan Plotinus dalam bentuk ennead itu. Pandangan Porphyry sama seperti Plotinus ia juga bersifat teosentris. 

Ia mengatakan bahwa orang yang bijak adalha ornag yang menghormati Tuhan walaupun dalma keadaan diam. Orang yang bodoh akan menodai Tuhan walaupun dalam keadaan berdo’a dan bertaubat. 

Pengikut Plotinus yang lain ialah Iamblichus yang meninggal pada tahun 330, juga menekankan hal-hal supernatural. Menurut pendapatnya manusia tidak mungkin memahami Tuhan dan ajaran Tuhan. 

Pengikut lainnya adalah Proclus, menurut pendapatnya bahwa manusia tidak akan selamat tanpa iman. Agama memainkan peranan amat penting dalam filsafatnya. 

B. Metafisika Plotinus

Dalam berbagai hal Plotinus memang bersandar pada doktirn-doktrin Plato. Mereka menganut realitas idea. Menurut Plato idea itu umum, maksudnya setiap objek hanya mempunyai satu ideanya. Sedangkan menurut Plotinus idea itu partikular, sama dengan dunia partikular. Perbedaan antara mereka ialah pada titik tekan ajaran mereka masing-masing. 

Plotinus kurang memperhatikan masalah sosial berbeda dengan Plato. Plotinus pun tidak mempercayai bahwa kemanusiaan bisa dipelajari melalui filsafat. Oleh karena itu, Plotinus tidak mengembangkan filsafatnya dalam bidang politik. Matematika Plotinus tidak sehebat Plato. Didalam hal materi bukan realitas plotinus sama dengan Plato, tetapi ia tidak tegas karena ia juga mengatakan bahwa materi itu jahat dan sumber kejahatan.

Sistem metafisika Plotinus dinamakan dengan konsep Transedens, menurut pemikirannya, bahwa di dalam pikiran itu hanya ada tiga realitas, yaitu :

1. The One
The One (Yang Esa) maksudnya adalah Tuhan dalam pandangan Philo. Yaitu sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui sains atau logika. Ia berada di luar eksistensi dan segala nilai. Jika kita mencoba mendefinisikannya akan gagal. Kita mungkin mengetahui esensinya, bahwa Tuhan merupakan pokok atau prinsip yang berada di belakang akal dan jiwa. Ia merupakan pencipta semesta alam.

The One tidak dapat didekati melaui pancaindera dan tidak dapat dipahami melalui akal logis. Tuhan itu transedens hanya bisa didekati dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Penangkapan terhadap Yang Esa itu ada akan tetapi bukan dengan akal. Objeknya tidak dapat didefiniskan dan tidak dapat di lambangkan melalui suara atau huruf.

2. The Mind
Realitas kedua adalah Nouns atau bisa pula disebut dengan Mind. Ini adalah gambaran dari Yang Esa dan didalamnya mengandung idea-idea plato. Idea-idea itu ada dan merupakan bentuk asli objek-objek . kandungan Nouns merupakan satu kesatuan, untuk menghayatinya mesti dengan permenungan.

3. The Soul
Soul itu mengandung makna satu jiwa dunia dan mempunyai dunia-dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dari dua aspek. Ia adalah energi di belakang dunia dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta.
Jiwa manusia juga mempunyai dua aspek, yang pertama aspek intelek yang tunduk pada reinkarnasi dan aspek yang kedua yaitu irasional. Yang irasional ini sama dengan moral pada Kant., yang intelek itu sama dengan akal logis. 

Teori tentang tiga ralitas ini mengingatkan pada Teologi trinitas yang dianut oleh Kristen, tampak banyak persamaannya. Teologi Trinitas pada masaa Plotinus sedang masa pembentukan atau sedang masa perumusan. 

Pusat doktrin pada agama Kristen bahwa Tuhan ada dalam tiga pribadi, Bapak, Anak dan Roh kudus. Akan tetapi mereka mengakatakan bahwa Tuhan itu Esa dalam substansinya. Hal ini merupakan suatu hal misteri yang terdapat dalam pemahaman akal logis. Tapi Trinitas dengan substansinya Yang Esa bukanlah suatu hal yang berlawanan dengan akal logis. Melainkan suatu konsep yang tidak bisa dipahami dengan akal logis. Pernyataan yang sederhana tentang Trinitas adalah : “Tuhan adalah Tiga dalam Satu dan Satu dalam Tiga; Tuhan adalah Bapak dan Bapak adalah Tuhan, Tuhan adalah Anak dan Anak adalah Tuhan, Tuhan adalah Roh Kudus dan Roh Kudus adalah Tuhan”.

Jika teori realitas Plotinus tidak bisa di pahami dengan akal logis. Maka apalagi tiga realitas dalam satu realitas atau Tiga dalam Satu dalam Trinitas.

Didalam ajaran Plotinus jiwa tidak bergantung pada materi, karena materi seratus persen pasif sedangkan jiwa seratus persen aktif. Oleh karena itu jiwa merupakan esensi dari tubuh material. Tubuh itu materi. Tubuh yang material itu merupakan prinsip-prinsip ketiadaaan, penuh dengan kejahatan dan keterbatasan. 

Plotinus mengatakan bahwa kita tidak boleh menyangka bahwa dunia ini merupakan sumber ketidakbahagiaan karena banyaknya ketidakkenalan didalamnya. Akan tetapi dunia itu indah dan yang teratur, dibuat oelh Sang Maha Besar. Alam semesta meupakan suatu kebijakan dari-Nya.

Tentang penciptaan. Plotinus berpendapat bahwa Yang Esa adalah Yang paling Awal, Sebab pertama. Disinilah teori penciptaan yang terkenal dengan Emanasi. Suatu teori yang belum pernah diajukan oleh filosof yang lain. Tujuan pertama teori ini ialah untuk menjelaskan bahwa yang banyak (makhluk) ini tidak menimbulkan pengertian bahwa didalam Yang Esa tidak menimbulkan pengertian yang banyak. Maksudnya, teori emanasi tidak menimbulkan pengertian bahwa Tuhan tidak sebanyak makhluknya.

Alam semesta ini diciptakan melalui proses emanasi. Emanasi itu tidak berlangsung didalam waktu. Emanasi itu seperti cahaya yang beremanasi dari matahari. Dengan beremanasi itu The One tidak mengalami perubahan. Untuk memahani emanasi itu ada baiknya diikuti uraian Hatta sebagai berikut :

Yang Esa itu adalah semuanya, akan tetapi tidak mengandung sesuatu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar yang banyak itu tidak mungkin yang banyak itu sendiri, dasar yang banyak adalh Yang Esa. Di dalam yang Esa itu yang banyak itu belum ada, sebab di dalam-Nya yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang esa itu sempurna yang tidak memerlukan apa-apa lagi. Maka beremanasilah dari Dia yang banyak itu. 

Di dalam filsafat klasik Yang Asal itu merupakan sebagai Yang Bekerja atau sebagai penggerak pertama. Disitu dikemukakan dua hal yang bertentangan, seperti yang bekerja dan yang dipertentangkan, idea dan benda, pencipta dan ciptaan. Penggerak itu berada di luar alam nyata, sifatnya transedens. Pada Plotinus terdapat pandangan lain. Padanya tidak ada yang bertentangan. Padanya alam ini terjadi pada yang melimpah, yang mengalir itu tetap menjadi bagian yang Melimpah itu. Bukan Tuhan berada di dalam alam, melainkan alam berada di dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan benda dalam bayangannya. Makin jauh yang mengalir itu dari Yang Asal, makin ia tidak sempurna, tidak lengkap, tidak cukup, tidak sama dengan yang asal. Kesempurnaan bayangan itu bertingkat menurut jaraknya dari Yang Asal. Sama dengan cahaya, semakin jauh dari sumber cahaya, semakin kurang terangnya, akhirnya ujung cahaya akan lenyap dari kegelapan.

Emanasi tidak berada dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu terdapat dalam tingkat yang paling rendah dalam emanasi. Ruang dan waktu itu suatu pengertian tentang dunia benda. Untuk menjadikan alam, soul mula-mula menghamparkan sebagian dari kekekalan-Nya lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya, energinya bekerja terus. Menyempurnakan alam semesta itu. Waktu berisi kehidupan yang bermacam-macam, waktu bergerak, sehingga menghasilkan waktu sekarang, lampau dan yang akan datang.

Waktu dalam filsafat Plotinus tidak berpisah dengan jiwa, ia merupakan sesuatu yang inheren dalam jiwa. Bila mencapai suatu kesatuannya yang asli, maksudnya bila terpisah dengan jiwa, waktu itu akan hilang, misalnya jika ia menyatu dengan alam semesta ini. 

C. Keberadaan Ilmu Pada Masa Plotinus

Pada masa Plotinus, idea keilmuan tidak begitu maju. Ia menganggap sanins lebih rendah daripada metafisika, metafisika lebih rendah daripada keimanan. Surga lebih berarti daripada bumi, sebab surga itu tempat peristirahatan yang paling mulia. Bintang-bintang adalah tempat tinggal para dewa. Ia juga mengakui adanya hantu yang bertempat tinggal diantara bumi dan bintang-bintang. Semua hal itu memperlihatkan rendahnya mutu sains Plotinus.

Plotinus disebut musuh Naturalisme. Ia membedakan dengan tegas antara tubuh dengan jiwa. Jiwa tidak dapat dipahami dengan ukuran-ukuran badaniah; fakta alam harus dipahami sesuai dengan tendensi spritualnya.

D. Pemikiran Filsafat Plotinus

a. Tentang Jiwa menurut Plotinus
Untuk memahami pemikiran filsafat Plotinus, sebaiknya memahami dulu filsafatnya tentang jiwa. Menurutnya, jiwa ialah suatu kekuatan ilahiyah yang merupakan sumber kekuatan. Alam semesta merupakan sesuatu yang berada pada jiwa. Jiwa tidak bersifat kuantitaf karena jiwa merupakan sesuatu yang tidak dapat dibagi. Sekalipun demikian, ada juga yang mengatakan bahwa jiwa itu sebenarnya adalah satu. Alasana itu ada karena kita merasakan antara jiwa saya dengan jiwa ornag lain; jika teman menderita maka saya merasakan penderitaan itu. 

Dengan pernyataan di atas jiwa itu banyak. Setiap individu mempunyai jiwanya masing-maisng. Tetapi diantara jiwa mempunyai kesatuannya. Jiwa yang satu itu masuk kedalam segala jiwa, akan tetapi tidak membelah dirinya. Inilah yang dimaksud dengan identetas dalam varietas, sama halnya sains yang mempunyai dengan banyak cabang tetapi tetap dalam satu kesatuan. Sementara bagian-bagiannya selalu di bimbing oleh ke-satu-annya. Ia tetap berasal daru Yang Satu itu.

Pada Plotinus didapati juga reinkarnasi. Sama halnya dengan Plato ia menganut paham bahwa jiwa ada sebelum dilahirkan yang berarti jiwa itu importal. Reinkarnasi ditentukan oleh kehidupan kita di dunia. Jiwa yang bersih tidak ada kaitannya dengan kehidupan dunia, akan tetapi dia akan kembali kepada Tuhan. Jiwa yang kotor akan kembali lagi kepada kehidupann yang kotor, seperti kejahatan, hewan, tumbuhan sesuai dengan tingkat kejahatan jiwa tersebut.

Menurutya jiwa yang rendah itu ingatannya pada teman-teman, isteri, anak-anak, kampung halaman. Hal ini merupakan jiwa yang rendah. Jika ingin mempunyai jiwa yang tinggi, maka harus lupa penuh pada sesuatu yang menimbukan jiwa rendah tersebut. Dia selalu ingat pada Yang Tinggi. Dalam dunia ini, sebaiknya manusia membuang segala kemauandan segala ingatan kecuali kepada Yang Maha Tinggi. Jiwa yang tinggi ialah jiwa yang tidak ingat kepada apa-apa kecuali kepada Tuhan Yang Tinggi.

b. Etika dan Estetika Plotinus
Etika Plotinus bermula pada pandangannya terhadap politik. Bahwa seseorang adalah wajar memenuhi tugas-tugasnya sebagai warga negara yang baik sekalipun ia tidak tertarik pada masalah politik. Tidak seperti pengikutnya Augustinus misalnya. Plotinus tidak menganggap begitu tinggi kehidupan pertapa; perenungannya lah yang lebih penting.

Dalam masalah ini ia membahas masalah kebebasan kehendak. Manusia mempunyai kebebasan berkehendak, tetapi tidak dapat dipahami secara lahiriah. Manusia jahat menjadi budak hawanafsunya, jadi tidak bebas. Mengenai kualitas perbuatannya, manusia harus bertanggung jawab karena ia diberikan pikiran untuk memilih dan kebebasan untuk menentukan pilihan. Memilih yang jahat berarti menuju kepada ketakbebasan, memilih yang baik berarti menuju kepada kebebasan.

Estetika atau keindahan pun memiliki arti spiritual, karena itu estetika dekat sekali dengan kehidupan moral. Esensi keindahan tidak terletak pada harmoni dan simetri. Esensi keindahan tidak terletak pada esensi harmoni dan simetri. Keindahan itu menyajikan keintiman antara Tuhan yang Maha Sempurna. Menurutnya pula bahwa keindahan itu bertingkat, dari keindahan inderawi dan keindahan ilahiyah. 

Keindahan menyatakan dirinya dengan penglihatan, akan tetapi ada juga keindahan untuk didengar. Pikiran meningkatkan keindahan yang lebih tinggi. Misalnya keindahan tindakan, keindahan penemuan akaln dan keindahan kebijaksanaan. Lebih tinggi lagi ialah keindahan dalam argumen.

Konsep keindahan menurut Plotinus berhubungan juga dengan pandangannya tentang kejahatan. Kejahatan menurut Plotinus tidak mempunyai realitas metafisis. Perbuatan jahat adalah perbuatan aku yang rendah. Aku yang rendah itu bukanlah aku yang ada pada realitas manusia. Aku yang berupa realitas adalah aku yang murni. Aku yang murni itu terdiri atas logos dan nouns. Logos menerima dari nouns (akal) idea-idea kekal. Dengan perantaraan logos (pikiran), jiwa hanya dapat melakukan pekerjaann-pekerjaan yang mulia, yang tujuannya bersatu dengan Tuhan.

Kejahatan bukanlah realitas. Kejahatan itu digunakan sebagai syarat kesempurnaan alam. Didalam alam ditemukan hal-hal yang bertentangan. Putih-hitam, panas-dingin, tertalar-tak tertalar, indah-tak indah, baik-buruk, semuanya merupakan anggota dari sebuah kehidupan. Jumalah mereka itu merupakan suatu kekompakan dari alam semesta.

E. Tujuan Filsafat Plotinus

Tujuan Filsafat plotinus ialah tercapainya kebersatuan dengan Tuhan. Caranya mengenalnya ialah pertama-tama dengan mengenal alam melalui panca indera dengan ini kita mengenal keagungan Tuhan, kemudian kita menuju jiwa dunia, setelah itu menuju jiwa illahi. Jadi perenungan itu dimulai dengan perenungan mengenai alam menuju jiwa illahi. Objeknya dari yang jamak kemudian kepada Yang Esa. 

Yang hendak dicapai adalh prinsip realitas. Itu ada dalam jiwa yang satu. Kita dapat mengenal itu dengan kemampuan yang ada pada diri kita. Itu merupakan kebijaksanaan yang ada pada kita dari Dia. Didalam kita ada sesuatu seperti Dia. Dimanapun kita berada, kita akan berahapan dengan keber-Ada-annya. Dengan semacam ini jiwa akan sampai kepada prinsip realitas, begitulah yang diungkapkan Plotinus. 

Pada tingkat terakhir ini tidak ada lagi keterpisahan, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi kesadaran antara ruang dan waktu, tidak ada lagi sesutu tentang kejamakan, semua ini mencakup semua kategori. Itu suatu keadaan yang jarang terjadi, bahkan Plato pun hanya mengalami beberapa kali. Caranya mudah, yaitu dengan menyucikan roh. Benda disekitar kita diabaikan sama sekali. Jiwa semata hidup di alam pikiran dan alam roh. Hanya itu cara bersatu dengan Tuhan. Itu hanya dapat dilakukan dengan mengembangkan perasaan. Keluar dari diri sendiri. Inilah yang dimaksud dengan extace. Pengalaman mistik itu berada diatas akal.

No comments:

Post a Comment