10 March 2014

Monolog Cinta (Part 1)

Bandung, 2013

Wajah tampan dengan kaos merah menyala duduk di depanku. Di ruang tamu sempit beralaskan kayu jati yang hangat namun seketika menjadi seperti es, kakiku membeku, mulutku kaku, badanku menggigil. Itu saat kau pertama kalinya menampakan diri tepat di hadapanku, tepat di malam minggu.

Alam berpihak pada kita, beberapa hari sebelum kita bertemu hujan terus menyelimuti Bandung, namun hari ini di malam minggu ini langit berbintang indah, bulan tampak purnama, bersih dan bercahaya di langit gelap.

Tak banyak cerita karena ini kali pertama kita bertemu sapa, setelah kurang lebih satu bulan kita hanya mengobrol kecil di sebuah jejaring sosial. Ternyata kau teman lama yang tak pernah aku kenal dekat sebelumnya. Dulu, tubuhmu tak sekekar sekarang, namun wajah tampanmu tak pudar dimakan usia. Kamu memang lelaki tampan.

Konyol sangat konyol hingga akhirnya kita mengikrarkan untuk akan komitmen dengan masa depan yang akan kita perjuangkan bersama.
"Kenapa kau menyukaiku, Abdul?" Tanyaku padanya
"Pertanyaan anak kecil, aku tak perlu menjawab, tapi sebentar, kenapa kau mau menerimaku??"
Pertanyaan itu memang baru terlontar beberapa hari setelah malam yg indah itu kita lalui.
Aku hanya diam saat kau membalikan pertanyaan.
"Oh dhem" ucapnya dengan wajahnya yang berseri.
"Kita adalah teka-teki, Allah mempertemukan pasti ada maksud yang indah, kau harus percaya itu, aku bukanlag laki-laki romantis yg kau inginkan, namun aku nyaman bersamamu, sangat nyaman, Icha. Love to be with you"
Aku hanya diam saat dia mengutarakan hal itu tepat di depan wajahku.
"Di depan nanti, kita akan menemukan tantangan yang begitu dahsyat, akang akan pergi jauh dan kau di sini harus jaga diri" ucapnya. Seketika raut wajahnya menjadi sedikit memohon, entah memohon apa.
"Ah akang, sebulan lagi kan perginya?"
"Iya sebulan lagi, jadi quality time with you and with our family"
Canda dan tawa pun kembali di ruang tamu rumahku. Walau sempit, namun impian kita tak sesempit itu.

"Kita harus bersiap menembus impian ya" ajaknya padaku.
"Siap.. London atau German kan, kang?"
"InsyaAllah, yuk shalat, berdoa agar Allah memudahkan semua impian kita"
"Aamiiiiin" doa kami beriringan.

To be continued